Jumat, 05 Juni 2009

Pengagum rahasia

 Malam minggu ini tidak jauh berbeda dengan malam minggu sebelumnya. Sejak bandnya Vino dikontrak untuk manggung dikafe ini. Gladys selalu ada untuk mendampinginya.
 “Gue mau ngambil minum dulu. Lu tunggu disini bentar ya, dys!” kata Vino.
Gladys hanya bisa tersenyum sambil memperhatikan Vino yang menghilang diantara pengunjung lain.
 Vino dan Gladys telah lama bersahabat. Mereka bersahabat sejak zaman SD. Tak satupun dapat Gladys ingat Vino tak bersamanya. Tetapi, hubungan antara Vino dan Gladys lebih mengarah sebagai kakak dan adik. Tidak ada perasaan yang lebih sama sekali.
 “Gladys!” panggil sebuah suara, sambil menyodorkan sebubah minuman. Gladyspun mengambilnya dan meletakkannya di sebuah meja.
 “Eh, by the way lu liat dia hari ini gak?” tanya Vino, pada Gladys.
 “Maksud lu, siapa?” tanya Gladys bingung.
 “Em... cewe yang biasa pake baju biru, yang tulisan bajunya I LOVE ROCK n ROLL. Mana , ya dia! Biasanya dia nggak pernah absen buat dating ke sini.
 Gladys hanya diam.
 “Kira- kira itu dia bukan ya?” Vino ragu.
 “Vin, udahlah. Ngapain dicari terus, belum tentu dia seperti yang lu sangka. Kalo nanti lu udah kenal jauh, lu malah jadi kecewa lagi.”
 Vino hanya tertawa, dan iapun mengacak- acak rambut Gladys. “Dys, lu emang adik gw yang baik. Ok, sekarang gue naik dulu, ya. Nanti kalo lu liat dia kasih tau gue, ya!” ujar Vino. Ia memanggil teman bandnya untuk naik ke atas panggung, dan mengambil gitar kesayangannya.
#
 Sudah sebulan ini, Vino selalu mendapatkan sebuah kiriman aneh. Kiriman itu tiba- tiba selalu ada di depan rumah Vino setiap minggu pagi. Isinya selalu bunga dan sebuah kartu ucapan bergambar gitar tanpa disertai penulisan nama pengirimnya, dan di dalamnya selalu ada tulisan WITH LOVE pada ujung bawah kartu. Ya, mungkin seorang pengirim itu adalah seorang pengagum rahasianya Vino.
 Seharusnya gladys merasa bahagia, karena sahabatnya, atau mungkin lebih tepat kakaknya mempunyai seorang pengagum. Tetapi Gladys merasa bosan karena sifat penasaran Vino itu selalu muncul. Ketika Vino masih bertanya- tanya siapa kira- kira pengagum rahasianya, Gladys biasa saja dan ia tidak merasa terganggu. Tetapi ketika Vino mulai terobsesi sama cewe, yang selalu memakai baju biru untuk menontonnya, Gladys mulai merasa terganggu. Gladys selalu bertanya- tanya dalam hati, “Apa gue selalu merasa cemburu? Atau karena merasa bosan dengan omongannya yang selalu itu saja setiap minggu?”
#
 Petunjukan telah usai. Tepukan tangan penonton banyak sekali, sehingga membuat tempat ini agak gaduh. Vino lalu melepaskan tali gitarnya, dan iapun membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan kepada para penonton.
 Tiba- tiba, Vino turun dari panggung, dan langsung berjalan menuju satu titik. Gladyspun mengikutinya. Dan ternyata Vino sedang menghampiri seseorang berbaju biru itu. Gladyspun memlingkan wajahnya. Ia memasang senyum kepada teman bandnya Vino, tetapi matanya hanya menayap ke satu titik, menembus kebelakang panggung mereka.
#
 Suasana kefe inipun sudah mulai sepi, pengunjung telah pulang. Gladys duduk sambil menatap pada meja yang kotor. Lampu sudah mulai dimatikan, ternyata sekarang sudah pukul tiga subuh. Sudah cukup lama Gladys diam di sini.
 Vino menepuk punggung Gladys, dan Vinopun mengajak Gladys untuk pulang.
#
 Sesampainya di mobil Gladys bertanya, “siapa namanya?”
 “Monik. Eh, tau gak lu.. ternyata dia tau lagu- lagu apa yang gue suka mainin,” Vino bercerita, dengan wajah sumringah. 
 “Jadi lu udah ngerasa yakin kalo pengagum rahasia lu itu dia?” tanya Gladys.
 Vinopun mengangguk, “Gue besok malem mau jalan bareng sama dia!” ucap Vino dengan berbinar.
 “Apa! Besok malem!!”, Gladys kaget.
 “Ia, besok malem!” nampak wajah Vino berbinar. Dan Gladys menundukan kepala sambil menggigit bibir dengan kesal.
#
 Sesampainya dirumah Gladys nampak begitu kesal, lalu ia menuju kamarnya berkata- kata, padahal di ruang TV itu ada kakaknya, Andre sedang asyik menonton.
 “Uh, kesel.. kesel..... !” ucap Gladys sambil menjatuhkan badannya pada tempat tidurnya.
 “Heh, lu kesambet ya! Pulang udah malem gini, terus marah- marah lagi! Emangnya kenapa sih lu?” tanya Andre, yang menyerobot masuk begitu saja ke kamar adiknya itu tanpa mengeketuk pintu dulu.
 “Enak aja lu! Lu jangan asal ngomong ya! Gue ini lagi kesel nih!” Gladyspun memajang muka manyunnya. Itu berarti ia lagi marah besar.
 “Ia, tenang dulu dong! Ngomongnya jangan sambil monyong- monyong gitu dong. Gue kan jadi takut!” Andre mencoba menenangkan adiknya dengan guyonannya yang garing itu, lalu iapun bertanya, “Emangnya lu kenapa kesel?”
 “Mau tau aja! Udah sana pergi lu dari kamar gue!” Gladys tidak menjawab pertanyaan kakaknya itu, tetapi ia malah mengusirnya. Dan nampaknya Andre sudah pergi. Lalu Gladys melamun sambil mendengarkan lagu dalam iPod ungu kesayangannya, sampai- sampai ia ketiduran.
#
 Tidak terasa hari sudah pagi, dan siang harinya Gladyspun bergegas ke sebuah pusat perbelanjaan yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Pada saat ia sedang asyik jalan- jalan, tiba- tiba langkahnya terhenti karena ia melihat toko baru yang ada di hadapannya itu. Toko itu menjual berbagai macam hiasan, dari mulai gantungan kunci hingga jam dinding yang unik, dan semuanya itu terbuat dari kayu. Pad saat ia melihat- lihat barang yang di jual di toko itu, ia terpaku pada sebuah hiasan yang terpajang pada rak di pojok itu. Ia sangat tertarik pada miniatur gitar kecil itu, dan ia berniat untuk membelinya. Akhirnya ia membelinya dan meminta untuk mengantarkan miniature gitar ini, karena kebetulan toko ini menyediakan jasa pengantar barang. Sebelumnya Gladys telah membeli kartu kecil, dan Gladys menuliskan puisi didalamnya. Dan puisi itu ia buat sebagai mana perasaannya selama ini kepada Vino. Dengan sebuah harapan Vino nanti akan tau siapa pengagum rahasianya selama ini...

SELESAI



  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar