Jumat, 08 Mei 2009

Cerpen

Malam yang dingin dan kelam menambah keharuanku. Karena mulai malam ini aku sudah tidak dapat berjumpa dengan ayhku. Ayahku pergi selama-lamanya. Hatiku hancur berkeping-keping mendengar berita itu. Bagaimana tidak, semenjak ibu meninggal 6 tahun lalu aku tinggal bersama ayah dan istrinya.
Rani adalah istri kedua ayah setelah ibuku. wanita itu adalah sekretaris ayah. Semenjak ibu meninggal, ayah selalu murung dan kesepian. Tetapi setelah Rani datang menemani ayah, semangat hidup ayah kembali lagi.
Awalnya aku tidak bisa menerima Rani menjadi bagian dari keluargaku. Tetapi berkat Rani, semangat hidup ayah kembali membara. Oleh karena itu aku dapat menerimanya menjadi bagian dari keluargaku.
"Sayang yang sabar ya. Ayah pasti akan tenang jika kamu dapt mengikhlaskannya." hibur tante Rani.
Aku tak mengeluarkan suara sedikitpu. Perasaanku dilanda kesedihan yang mendalam. Tanpa kata-kata aku pun pergi dari rung tengah dan bergegas menuju kamar.
"Bill, boleh tante masuk ?" tiba-tiba tante Rani mengetuk pintu.
"Kamu kenapa Billa ? Sudahlah ikhlaskan saja, supaya ayah tenang berada disana." hibur tante Rani sabil membelai rambutku.
"Keluar lo ! Gara-gara lo ayah jadi meninggal. Kalo lo gak lagi berduaan dengan cowok itu, jantung ayah nggak akan kumat. Pergi lo !" aku penuh emosi.
"Sabilla. Dengar tante. Laki-laki itu bukan pacar tante atau suami tante. Tapi itu hanya rekan bisnis tante. Tante hanya sayang sama ayah kamu."
"Ah, omong kosong lo ! Bilangnya aja rekan bisnis. Eh, taunya pacar simpanan lo. Ia kan ? Udah lah. Lo jangan sok suci dimata gue. Pergi lo !!" aku mengusir wanita itu sambil mendobrak pintu kamarku.


Bersmbung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar